Pelabuhan Mata Cinta

Tepat pukul 08.30 WIB aku sudah siap menunggu Galang dirumah. Aku dandan seperlunya, seperti biasa aku tak pernah melepaskan predikatku sebagai “Simple Girl”. Sebutan unik Galang untukku. Aku cuma mengenakan kaos pink, celana jeans panjang, kerudung pink, dan tas kecil berwarna cokelat. Dan….
                “Assalamualaikum,” aku kenal suara itu. Itu Galang, dia sudah sampai di depan rumahku.
                “Waalaikumsalam, akhirnya dateng juga pacarku,” candaku sambil kuberikan senyumku untunya.
                “Duduk dulu Lang. Aku panggilin bapak dulu ya!”
                “Iya Rin,”
Kutinggalkan Galang seorang diri di ruang tamu. Sementara bapak menuju ruang tamu, aku siapkan air minum untuk Galang dan bapak.
                “Gimana kabarnya nak Galang? Sehat?”
                “Alhamdulilah sehat pak. Ibu gimana kabarnya pak?”
                “Alhamdulilah ibu sehat. Mau ngajak Ririn jalan ya?”
                “Iya pak. Udah lama nggak jalan bareng. Maklumlah pak, anak muda yang lagi pacaran.”
                “Yo, yo, aku yo ngerti nang,
Dari ruang tengah kudengar pembicaraan mereka yang disusul dengan gelak tawa mereka. Entah apa yang mereka bicarakan. Namun tak terlalu formal.
                “Ini diminum dulu,” aku ambil dua teh hangat yang aku buatkan untuk mereka. Galang seorang tamu, dan bapak adalah tuan rumah. Sudah sepantasnya aku melayani mereka.
                “Nah minumannya sudah dateng. Ayo ndang diminum nang!
                “Iya pak,”
Kuletakkan nampan di dapur, setelah itu kembali keruang tamu dan duduk di samping kanan bapak.
                “Gimana nduk, kamu mau jalan sama nak Galang hari ini?” pertanyaan bapak membuka suasana yang tenang.
                “Iya pak, tapi kalau boleh. Kalau tidak ya, dirumah saja,” jawabku cuek mendengar pertanyaan bapak.
                “Yo entuk to nduk. Mosok rak entuk. Kalian kan sudah besar dan dewasa, jaga sikap kalau lagi berduaan. Ada yang lihat.” Bapak selalu memberi nasihat untuk hubungan kami.
                “Iya pak,” Galang dan aku menjawab hampir serempak.
                “Yo wis. Ndang nek meh dolan.
                “Matur nuwun pak,” senyumku penanda ijin telah kudapatkan.
Aku dan Galang bergantian mencium tangan bapak. Sudah tradisiku sejak kecil setiap akan pergi kemanapun ijin bapak dan jika diijinkan langsung kucium tangan beliau.
***
                “Lang, kita mau kemana nih?” tanyaku sambil membonceng Galang.
                “Terserah kamu aja Rin mau kemana. Aku anut kamu wae.
                “Hmm. Kalau ke Semarang gimana?”
                “Oke, nggak masalah. Ke mana?”
                “Aku mau cari buku dulu ke Gramedia.”
                “Siap bos. Segera kesana..”
Jawaban Galang membuatku tersenyum bahagia. Dia selalu mampu membuatku tersenyum, bahagia, tertawa. Kupeluk Galang di jok belakang kendaraan Vixion-nya Galang. Erat dan erat.
Aku jadi ingat saat pertama kenal Galang. Dulu kami kenal di SMA Boja. Satu kelas waktu kelas X dan pisah di kelas XI dan XII. Kisah ini dimulai saat aku dan dia ikut exskul beladiri. Aku baru tahu kalau dia sudah tingkatan tiga, dan aku masih tingkatan satu. Sangat awal buatku. Tapi dia selalu mengajariku dengan telaten dan penuh kesabaran. Canda dan tawa kami di beladiri berlanjut hingga kelas XI. Saat kenaikan kelas yang dia nekat mendatangiku di kelas. Dia cuma bilang, “Temui aku nanti jam 3 sore di lapangan atas. Tepat, nggak boleh kurang atau lebih.” Aku bingung, kenapa dia ngajak ketemuan sore dan di lapangan atas. Ada apa sih?
***
02.30 sore, di lapangan atas. Aku sudah tiba di sekolah. Aku memang niat menunggu lebih awal karena aku terlalu penasaran dengan ajakan Galang. Untuk waktu ini aku jadi mata-mata dadakan di ruang Sosiologi. Setengah jam aku menunggu, Galang datang juga. Tapi dia cuma duduk di bawah pal sepak bola. Aku turun ke kelas IPA. Aku datangi ia dari bawah. Tapi ada yang aneh.
                “Sore Galang,” sapaku dari belakang Galang.
                “Sore juga. Sini duduk disampingku,”
Aku hanya mengangguk dan duduk di samping Galang. Lama sekali kami saling terdiam. Aku mulai bosan. Apa sih yang akan dibicarakan sama Galang?
                “Lang, kamu mau ngomong apa sih?” aku mulai membuka pembicaraan.
                “Kamu dateng jam berapa tadi?”
                “Jam tiga tepat Lang. Mang napa Lang?”
                “Kamu bohong sama aku Rin. Kamu tadi dateng jam setengah tiga kan?”
                “Kox kamu tahu Lang?”
                “Kamu nggak perlu tahu darimana aku tahu. Kali ini aku maafkan kesalahan kamu Rin. Lain kali jangan ulangi lagi ya!”
                “Ya,” aneh. Darimana Galang bisa tahu aku berangkat jam segitu? Nggak ngasih tahu lagi darimana dia tahu. Apa mungkin dia nggak pulang tadi? Biarin lah. Itu bukan tujuanku dateng kesini. Aku pengin tahu apa sih yang mau dia omongin sama aku.
                “Terus, kamu mau ngomong apa Lang?”
                “Besok aja Rin. Tadi kamu udah ngelanggar janji ketemuan ok. Mau langsung pulang apa mau main?”
                “Ya Allah Lang, cuma karena aku dateng 30 menit lebih awal kamu nggak mau ngomong sama aku? Emang salah ya aku datang lebih awal?”
                “Kamu jelas salah Rin. Kamu dateng 30 menit lebih awal dari janji. Padahal aku pengin kamu dateng itu on time. Nggak kurang, nggak lebih.”
                “Kamu egois Lang!” aku tinggalkan dia di lapangan atas. Tapi tak kudengar dia mengejarku, memanggilku, menarik tanganku atau mencegahku pergi. Dia hanya duduk santai di lapangan atas. Aku pulang dengan penuh penyesalan karena keegoisan Galang. Aku sebel sama dia.
Dua minggu aku tidak pernah menghubungi Galang, tidak dateng latihan beladiri, dan semua kegiatan yang membawaku pada Galang. Juga berusaha menghindari bertemu dengan Galang. Aneh, tiba-tiba tepat dua minggu aku tak menemuinya dan menghindarinya dia datang ke rumahku dan bilang ke orangtuaku kalau ‘DIA SUKA SAMA AKU’
***
                “Assalamualaikum,”
                “Waalaikumsalam,” kubuka pintu ruang tamu dan aku kaget bukan kepalang kalau yang dateng itu Galang.
                “Cari siapa ya mas?” aku pura-pura tak tahu dan lupa pada Galang. Dan anehnya dia juga sama, dia pura-pura lupa sama aku.
                “Apa benar ini rumahnya Ririn Arisa?”
                “Benar, saya sendiri. Lha kamu siapa?”
                “Saya Galang. Boleh saya bertemu dengan bapak anda?”
                “Boleh, silakan masuk. Monggo pinarak rumiyen mas.
Aneh, dari mana Galang tahu rumahku. Dia nggak pernah main kerumahku kox. Apa mungkin dia tanya sama temennya dia tentang kediamanku? Entahlah.
                “Pak, ada orang yang madosi bapak.”
                “Sopo? Konco kerjone bapak?”
                “Katanya sih Galang, tapi coba bapak temui dia ah,”
                “Yo, sek sedelok neh.”
***
                “Sinten nggeh?” bapakku pun penasaran dengan Galang.
                “Kula Galang pak. Rencang sekolah Ririn. Saya kesini dengan maksud mau matur langsung sama bapak kalau saya suka sama anak bapak. Si Ririn.”
                “Kamu beneran suka sama Ririn nang?”
                “Iya pak. Jujur saja saya sudah menyukainya sejak kami kelas X dulu,”
                “Kamu sudah matur sama Ririn?”
                “Sebetulnya minggu kemarin saya ingin bicara hal ini kepada Ririn. Tapi batal pak,”
                “Lho, lha piye to?”
                “Kemarin dia saya ajak ketemu jam 3 sore tepat. Tapi dia datang 30 menit sebelum jam 3. Pertama, saya ingin melihat kedisiplinannya terhadap sesuatu yang akan dia ketahui. Tapi ternyata dia melanggar hal itu. Jujur saja pak, saya agak kecewa dengan sikapnya, karena yang saya tahu selama ini dia selalu tepat waktu pak.”
                “Oh ngono?”
                “Kurang lebihnya begitu pak.Ya sudah kalau begitu pak, saya mau pamit pulang dulu. Saya cuma ingin bicara hal itu langsung kepada bapak selaku wakil Ririn. Maaf kalau saya lancang bicara seperti itu kepada bapak.”
                “Lho orak ngombe disek le?”
                “Mboten pak matur nuwun. Assalamualaikum,”
                “Waalaikumsalam,”
***
Di kamar aku menunggu bapak selesai dengan tamunya itu.
                “Rin, bukak’e lawang’e,”
Kubuka pintu kamarku dan bapak sudah di depan pintu. Wajah bapak terlihat ceria sekali. Perasaanku mulai tak enak, penuh pertanyaan.
                “Ada tamu kox ndak dibuatke minum to Rin?”
                “Ndak perlu pak. Dia tuh anak’e bikin sakit hati pak. Makanya Ririn sengaja ndak buatin minum buat Galang. Ngapunten pak,”
                “Yow is, rak po-po. Kamu kenal Galang nak?”
                “Iya pak Ririn kenal. Dia teman di perguruan bela diri,”
                “Kamu suka sama dia?”
Pertanyaan kali ini sontak mengagetkanku. Inilah yang aku khawatirkan. Galang, kamu nekat ngomong langsung sama bapak. Napa sich ndak bilang sama aku aja. Dasar orang nyebelin. X(
                “Rin,”
                “Nggeh pak. Pripon?”
                “Jawab disek! Kamu suka sama Galang?”
                “Iya pak. Sejak dari kelas X dulu,”
                “Yo wis, bapak lega,”
                “Maksudnya bapak gimana?”
                “Bapak ngerti sapa cah kae nok. Dia anak yang baik. Kamu punya masalah sama dia?”
                “Iya pak. Dia itu orang’e nyebelin. Kemarin aja dia minta ketemu jam 3 sore pas. Ndak boleh kurang atau lebih. Aku dateng 30 menit sebelum bertemu karena aku penasaran apa yang dia mau bicarakan denganku. Eeh, malah dia ngambek ndak mau ngomong. Jarene, aku ndak bisa tepat waktu.” Jawabku dengan ngambek sepenuhnya sama bapak.
                “Kamu yang salah kalau itu. Sebenarnya dia ngajak ketemu sama kamu dia mau ngomong dan ngetes kamu,”
                “Ngetes pripon to pak? Ririn ndak mudeng,”
                “Gini lho nduk. Yang bapak tangkap dari dia, dia itu beneran suka sama kamu. Dan sepertinya sudah lama dia memendam rasa itu dari kamu. Kedua, dia ngetes kedisiplinan dan keingintahuan kamu tentang sesuatu yang akan dia sampaikan ke kamu. Mudeng sekarang kamu?”
Aku hanya tertunduk mendengar pernyataan bapak. Mungkin pernyataan bapak benar, aku terlalu penasaran dengan Galang. Aku nggak bisa menjaga emosiku. Maafkan aku Lang, aku udah ngecewain kamu. Eh malah sekarang kamu bener-bener buktiin ke aku kalau kamu 100% cinta sama aku. 100% sayang sama aku. Sekali lagi maafkan aku Lang.
                “Nduk, Galang tadi bilang kalau dia suka sama kamu,”
                “Hah??? Saestu pak?”
                “Tenan to yo. Bapak orak ngapusi. Yo wis, bapak mau tidur dulu, assalamualaikum.”
                “Waalaikumsalam pak,”
Malam ini aku tak pernah menyangka kedatangannya, juga kedatangan Galang dengan pesan cintanya selama ini. Allah, terimakasih atas hadirnya malam ini. Cinta telah datang menghujani diriku yang kering. Apa cinta itu seperti ini Ya Allah? Aku ingin malam ini aku bermimpi indah, memimpikan Galang. ^_^
***
Brakk!!!!!!!
***
                “Aku dimana?”
                “Kamu di rumah sakit Tugu. Tadi kamu kecelakaan di jalan.”
                “Apa???? Kecelakaan????”
                “Bagaimana dengan Galang?”
                “Dia sedang kritis di ruang ICU. Tenangkan dirimu dulu, kami akan merawat dia sebaik-baiknya.”
Jadi benturan tadi adalah kecelakaanku dengan Galang? Ya Allah selamatkan Galang ya Allah. Tetap satukan hati kami dunia akhirat Ya Allah.
***
Hari-hariku terbaring di atas tempat tidur rumah sakit Tugu. Menunggu kepastian pulang dan kepastian kesembuhan Galang. Galang sayang, cepet sembuh ya. Kamu harus bertahan sayang.
                “Dok, pasien bernama Galang harus segera di operasi.”
Tak jelas aku mendengar pembicaraan dokter Rian dan suster di depan ruanganku. Pelan, aku dekati mereka.
                “Dok, Galang kenapa?”
                “Kamu kenapa keluar kamar? Belum sembuh kan?”
                “Itu tak penting dok. Gimana Galang? Dia kenapa?”
                “Mata Galang buta. Dia perlu bantuan donor mata.”
                “Galang buta dok????”
                “Iya nak,”
                “Saya bersedia mendonorkan mata saya untuk Galang dok,”
Sontak kedua orang di depanku shock mendengar pernyataanku.
                “Jangan nak. Kesehatanmu tidak mendukung untuk donor mata.”
                “Biar dok, yang penting Galang sehat dan pulih kembali. Saya mohon dok!”
                “Saya bicarakan dulu dengan ayahmu Rin,”
                “Baiklah,”
Galang buta??? Tak mungkin. Tak mungkin Galang buta. Tapi kalalu memang ia buta, aku ingin mendonorkan mataku untuk dia.  Aku ingin dia tetap bahagia, walau harus nyawaku taruhannya.
***
Bapak tak dapat menahanku untuk mendonorkan mataku untuk Galang. Jadilah hari ini sebagai hari pendonoran mataku untuk Galang.
                “Galang sayang, aku selalu cinta kamu,”
Operasi pun dilakukan. Untuk terakhir kalinya, aku pegang erat tangan Galang. Menatap wajahnya lekat, kupeluk Galang. Kucium kening Galang. Aku selalu cinta kamu Galang. Selamanya.
***
Operasi selesai. Penantian akan kesembuhan Galang dan keselamatan Ririn menjadi yang paling utama. Dokter keluar ruang operasi, langsung ayah Ririn menanyakan keselamatan keduanya. Inilah titik penentuan hidup mati kami.
                “Pak, bisa bicara berdua?” ajak dokter Rian pada ayah Ririn.
                “Oh iya pak, bisa.”
                “Ada apa ya pak? Mereka selamat kan pak?”
                “Iya pak, keduanya selamat. Tapi…”
                “Tapi apa pak?”
                “Ririn pendarahan pak. Kini dia kritis. Galang selamat dan tinggal menunggu kepastian kesembuhannya,”
Ayah Ririn lemas mendengar anaknya kritis. Ia hanya mampu berharap kalau Ririn pasti akan selamat dan hidup kembali dengannya.
***
Bendera kuning terpampang jelas di depan rumah Ririn. Galang kaget karena tak ada yang memberitahunya apa yang terjadi dengan keluarga Ririn. Ia langsung menyelinap masuk rumah dan ia dapati jasad Ririn terbaring di dipan tertutupi kain batik dan kafan. Ia benar-benar tak percaya kalau Ririn telah tiada.
Tak ada hal lain yang mampu ia lakukan selain menangisi kepergian Ririn yang tanpa sakit atau tanpa sebab yang jelas tiba-tiba ia pergi meninggalkannya. Bahkan setelah kepergian Ririn, hidup Galang tak jelas tujuannya. Jarang makan, badannya tak terurus, tatapannya selalu kosong. Kelurga Galang telah melakukan yang terbaik untuk Galang, namun nihil hasil.
Pernah suatu hari, ayah Ririn menjelaskan padanya kalau mata yang ia pakai untuk melihat saat ini adalah mata Ririn. Ia selalu ada di dekat Galang. Ririn tak pernah meninggalkan Galang. Semenjak saat itu, Galang yakin kalau Ririn tak pernah meninggalkannya, selalu disisinya, selalu bersamanya. Hidupnya sudah teratur dan lumayan membaik.
Cintaku Ririn, aku yakin kamu selalu dihatiku. Kamu nggak pernah mati. Ririn sayang, tetaplah tersenyum untukku disini. Matamu adalah mataku, hidupku hidupmu, cintaku cintamu, selamanya.
Salam dari kekasihmu tersayang,
Galang.



Cerpen ini terinspirasi dari teman XI BAHASA. Aku masih ingat ketika dia menangis dan kehilangan. Makasih atas inspirasimu kawan....

Pelayat Kelam

Seratus hari sudah setelah kematianku
Aku tak pernah lagi melihat keanggunanmu
Karena kau jua tahu, mataku telah tertutup
Aku tak pernah lagi mencium indahnya sosok dirimu
Karena kau jua tahu, perasaanku telah terkubur mati
Aku tak pernah lagi meraba jiwa kuatmu
Karena kau jua tahu, ragaku telah tertutup kafan bajuku
Kematian adalah pembunuhan
Dan aku mati dengan pembunuhan itu
Tak akan hidup lagi
Tak mampu bangkit lagi
Tak mampu untuk segala yang aku mampu
Dirimu nun datang membawa bunga
Mewangikan tubuhku yang hina dan busuk
Jua membawa air telaga
Menyirami bangkai terkotor di pemandian danau
Dan tangisan yang membahana nian
Menyeringai mata yang menampakkan amarah
Namun tahukah kau wahai wanita,
Amarahku tak pernah menyala di pelupuk matamu
Kesuburan keindahan yang selalu kau siramkan
Menolak setiap amarah yang menyergapku
Menerbangkan kesakitanku
Air itu, selalu ada dalam setiap kuburku
Air itu menangkan kafanku yang kalang kabut bayu
Dan, bunga-bunga pemakaman yang menghiasi nisanku
Menyegarkan makam lapuk milik pezina ini
Bunga dan air yang selalu tumbuh di atas nisanku
Menjadi pertandaku, aku adalah aku yang butuh dia

SUARA

Emak masih duduk termangu dalam lamunan cinta kehidupan. Emak masih terbawa angin kehidupan. Emak masih membelai rambutku saat bahagia kami. Emak masih mengukir senyum dalam kekacauan pikirannya.
Emak kini sakit. Emak demam. Emak menggigil.
Entah berapa lama emak akan jatuh sakit. Banyak obat yang emak minum, hanya menambah pening kepala emak.
Mak,,,,,,,
Kami anak-anakmu kangen sama emak. Kami rindu emak. Obat ini yang mampu ku beri untuk emak. Obat warung yang tak terlalu berkhasiat.
Tahukah mak, kami selalu bertanya : kapan mak sembuh? Kapan mak menyapa kami? Kapan mak bersama kami lagi? Kapan mak kembali?
Mak,,,,,
Tahukah mak, kami selalu : kangen sama sayang emak, kangen sama kasih emak, kangen sama jiwa mak, kangen sama cinta mak.
Mak, bangun mak. Bangun mak. Ini kami mak, anak-anakmu mak.
Mak, apa ini yang selama ini mak katakan kepada kami. Rumah ini akan menjadi sarang laba-laba? Sarang rayap? Kalau memang iya, jawab mak! Jawab!
Mak, seandainya emak tahu. Kami selalu ingin merubah rumah ini mak. Bukan dengan terobosan angin malam. Bukan dengan tatapan tajam terik matahari. Tapi dengan bintang di langit-langit rumah. Dengan bulan sebagai teplok rumah.
Kami tersadar kini mak. Mak, kami kangen sama emak. Kami rindu cinta kasih emak. Mak, sadar mak. Ini kami mak, anakmu.
Apakah harus kami membangunkan para hulubalang terhunus untuk membangunkan emak? Apakah kami harus menggali tanah gersang yang tertutup bangunan itu untuk membuka masa lalu emak?
Gusti, bantu kami membalikkan keadaan emak. Emak sekarat Gusti. Emak meh mati!
Mak, kami menanti kembalimu pada jiwa kami.