Pelayat Kelam

Seratus hari sudah setelah kematianku
Aku tak pernah lagi melihat keanggunanmu
Karena kau jua tahu, mataku telah tertutup
Aku tak pernah lagi mencium indahnya sosok dirimu
Karena kau jua tahu, perasaanku telah terkubur mati
Aku tak pernah lagi meraba jiwa kuatmu
Karena kau jua tahu, ragaku telah tertutup kafan bajuku
Kematian adalah pembunuhan
Dan aku mati dengan pembunuhan itu
Tak akan hidup lagi
Tak mampu bangkit lagi
Tak mampu untuk segala yang aku mampu
Dirimu nun datang membawa bunga
Mewangikan tubuhku yang hina dan busuk
Jua membawa air telaga
Menyirami bangkai terkotor di pemandian danau
Dan tangisan yang membahana nian
Menyeringai mata yang menampakkan amarah
Namun tahukah kau wahai wanita,
Amarahku tak pernah menyala di pelupuk matamu
Kesuburan keindahan yang selalu kau siramkan
Menolak setiap amarah yang menyergapku
Menerbangkan kesakitanku
Air itu, selalu ada dalam setiap kuburku
Air itu menangkan kafanku yang kalang kabut bayu
Dan, bunga-bunga pemakaman yang menghiasi nisanku
Menyegarkan makam lapuk milik pezina ini
Bunga dan air yang selalu tumbuh di atas nisanku
Menjadi pertandaku, aku adalah aku yang butuh dia

0 Response to "Pelayat Kelam"

Posting Komentar