SUARA

Emak masih duduk termangu dalam lamunan cinta kehidupan. Emak masih terbawa angin kehidupan. Emak masih membelai rambutku saat bahagia kami. Emak masih mengukir senyum dalam kekacauan pikirannya.
Emak kini sakit. Emak demam. Emak menggigil.
Entah berapa lama emak akan jatuh sakit. Banyak obat yang emak minum, hanya menambah pening kepala emak.
Mak,,,,,,,
Kami anak-anakmu kangen sama emak. Kami rindu emak. Obat ini yang mampu ku beri untuk emak. Obat warung yang tak terlalu berkhasiat.
Tahukah mak, kami selalu bertanya : kapan mak sembuh? Kapan mak menyapa kami? Kapan mak bersama kami lagi? Kapan mak kembali?
Mak,,,,,
Tahukah mak, kami selalu : kangen sama sayang emak, kangen sama kasih emak, kangen sama jiwa mak, kangen sama cinta mak.
Mak, bangun mak. Bangun mak. Ini kami mak, anak-anakmu mak.
Mak, apa ini yang selama ini mak katakan kepada kami. Rumah ini akan menjadi sarang laba-laba? Sarang rayap? Kalau memang iya, jawab mak! Jawab!
Mak, seandainya emak tahu. Kami selalu ingin merubah rumah ini mak. Bukan dengan terobosan angin malam. Bukan dengan tatapan tajam terik matahari. Tapi dengan bintang di langit-langit rumah. Dengan bulan sebagai teplok rumah.
Kami tersadar kini mak. Mak, kami kangen sama emak. Kami rindu cinta kasih emak. Mak, sadar mak. Ini kami mak, anakmu.
Apakah harus kami membangunkan para hulubalang terhunus untuk membangunkan emak? Apakah kami harus menggali tanah gersang yang tertutup bangunan itu untuk membuka masa lalu emak?
Gusti, bantu kami membalikkan keadaan emak. Emak sekarat Gusti. Emak meh mati!
Mak, kami menanti kembalimu pada jiwa kami.

0 Response to "SUARA"

Posting Komentar