Oh mungkin aku bermimipi menginginkan dirimu untuk ada disini menemaniku. Oh mungkinkah kau yang jadi kekasih sejatiku. Semoga tak sekedar harapku…
Suara Monita mengalir pelan di hand-set-ku. Entah kenapa setiap aku mendengar alunan lagu ini hatiku terpanggil untuk menemui kak Andy dan mengingat kisahku bersama kak Rahman dulu. Begitu indah ketika kami merajutnya, namun rajutan itu terlalu cepat untuk menjadi suatu yang indah. Hingga mata kami tak terjaga untuk terus merajutnya pelan dan indah. Pada akhirnya, hati kamilah yang sakit karena darah mengucur deras dari tangan cinta kami. Cepat alunan music itu menghanyutkanku untuk terlelap terbang ke alam mimpi.
***
“Nindy, tumben tadi kamu perhatiin banget pelajaran. Biasanya juga pecicilan kaya anak kecil,” sindir April saat kami perjalanan pulang.
“Namanya juga pengen berubah,” jawabku enteng.
“Wah, sejak kapan kamu kenal perubahan Nin? Udah mulai sadar nih ceritanya?”
“Enak aja! Udah dari dulu kali sadarnya. Kamu aja yang nggak buruan melek. Mereeemmm terus. Hahahaha,”
“Hmm, mulai jahil deh! Emang apa sih yang bikin kamu PDKT sama perubahan Nin?” waduh, pertanyaan interogasi lagi nih.
“Gimana ya? Aku juga nggak tau jelas Pril. Tapi pokoknya hal itu yang bikin aku berubah,” jawabanku seadanya.
“Masak pengen berubah nggak tau yang bikin kamu berubah apa, aneh lagi nih. Jawab ah yang jujur Nin!”
“Iya, iya ah. I get a crush on him. Puas????” jawabanku cukup mbentak April. Aku benci interogasi dan kawan-kawannya.
“Haaa???”
“Napa? Nggak percaya?”
“Bukan itu masalahnya Nin?”
“Terus apa’an????”
“Aku nggak ngerti artinya Nin. Emang artinya apa sih?”
“Haaa. Pulang yuk!” kuseret cepat tangan April meninggalkan gerbang menuju angkutan d depan sekolah.
Dan kebiasaan April pun mulai lagi. Menginterogasi orang. Huh, sebel. Pertanyaannya ya cuma sekitar sekitar artinya get a crush, sama siapa get a crush, sejak kapan. Dan jawaban nyabelin dariku yang sering terlontar kalau udah gini ya… besok kamu juga tahu kok. Titik.
***
Satu bulan sudah kami ditemani anak-anak penelitian itu. Dan selama itu pula guru pembimbing kami jarang masuk digantikan sementara sama mereka. Tapi aneh selama itu cuma satu orang laki-laki yang aku taksir. Tiap aku menatapnya ingatanku tak pernah mampu terhapuskan. Teringat, kembali, dan tak bisa hilang. Di suatu jam istirahat, aku dan April duduk di depan kelas Bahasa Inggris.
“Nin, sebenernya siapa sih yang kamu suka? Temen satu kelas, satu angkatan, adek kelas, atau anak-anak penelitian itu?” darimana dia tahu pertanyaan seperti itu. Gawat.
“Hmm. Aku harus jawab Pril?”
“Harus!”
“Oke aku jawab. Dengan syarat kamu nggak boleh kaget lahir batin. Deal?”
“Deal.”
“Dia salah satu anak yang sedang mengadakan penelitian itu,” aku tertunduk malu mengatakan hal itu.
“Kenapa kamu nggak bilang sama aku Nin?”
“Nggak terlalu penting untuk di ceritakan. Yang penting kamu nggak cerita sama siapapun tentang hal ini,”
“Oke aku nggak bakalan cerita. Emang siapa namanya?” sontak pertanyaan ini membuatku kaget. Aku tak pernah seperti ini sebelumnya, untuk curhat ke April biasa-biasa aja. Apa lagi tentang cowok, udah biasa. Tapi kenapa ini beda gini.
“Nin, kamu masih bisa denger aku kan? Jawab Nin!” April kesal aku tak lekas menjawab pertanyaan April.
“Oh, hal itu masih menjadi rahasiaku Pril. Cuma aku dan Tuhan yang tahu,” aku tak ingin April tahu. Karena akhir-akhir ini aku lihat ia sering ke base camp anak-anak itu dan dialog sama “dia”.
“Emangnya kenapa aku nggak boleh tahu Nin? Kamu malu?”
“Nggak kok Pril. Cuma kamu tetep bakalan tahu, tapi nggak sekarang. Belum waktunya,” aku mencoba mengatur nafasku dengan menghela nafas panjang dan ku hembuskan pelan.
“Ya sudah. Kantin yuk!” ajak April. Dan kujawab dengan sebuah anggukan pertanda setuju.
***
Widih, rame banget kantinnya. Gimana mau makan kalau gini caranya. Kutarik tangan April menyusuri tiap kantin. Tiga kantin pertama rame banget. Tepat, kantin lima. Sepi, Cuma ada satu orang disitu. Kak Andy. Aku kaget bukan kepalang.
“Pril, kita ke kantinnya nanti aja ya. Aku lagi bad mood nih. Nggak pa-pa kan?”
“Emang napa sih Nin, kan masih ada yang kosong. Sekarang aja ya!” tangan April sudah terlanjur menarikku ke kantin lima. Dia duduk di samping kak Andy sementara aku memesan dulu makananku. Daripada ganggu mereka aku duduk membelakangi mereka aja ah. Toh bukan hal ini yang aku inginkan.
Kudengar percakapan mereka. Begitu akrab seperti saudara, bahkan lebih mirip ke soulmate. Astaghfirullah, kenapa aku su’udzan gini. Ku percepat makanku dan segera kembali ke kelas meninggalkan mereka. Perjalanan ke kelas, kepalaku berbicara “kenapa mereka tidak menanyakanku, kenapa mereka tidak menolehku, kenapa April seakan tak menganggapku menemaninya. Malah dia cuekin aku dan ngobrol sama kak Andy”. Pikiranku jadi tak tenang sampai jam pulang berdering.
***
Hampir dua bulan ini aku lebih sering lihat April jalan sama kak Andy, anak peneliti itu. Apa mungkin mereka pacaran? Kenapa April tak pernah bicarakan ini sama aku? Dia udah ketutup sama aku. Aku juga udah usaha hubungin April dan nggak ada balasannya.
“Eh Nin,” panggil Anisa ke arahku.
“Iya Nis. Ada apa?”
“April ada masalah sama kamu ya?” aneh, kenapa Nisa tanyain ini ke aku.
“Enggak kok. Kita jarang ada masalah selama ini. Memangnya kenapa?”
“Kemarin aku lihat dia main ke kosnya kak Andy terus pulangnya dia mampir ke kosku dan cerita kalau dia udah jadian sama kak Andy. Seminggu yang lalu,” ya Allah, kenapa justru cerita ini aku dengar dari Nisa. Bukan dari suara April sendiri.
“Oh begitu ya?” jawabku dengan suara lemas.
“Kurang lebih begitu. Memangnya kalian lagi bertengkar, kenapa aku jarang banget lihat kalian jalan bareng. Biasanya kan kayak perangko sama amplop, nggak bisa jauh. Hehehe,”
“Kebetulan April lagi nggak ada masalah sama aku kok. Beneran April cerita begitu ke kamu?” tanyaku masih tak percaya.
“Beneran. Sumpah Nin aku nggak bohong,” pernyataan Nisa membuatku yakin bahwa selama ini April terlalu menjauhiku. Atau mungkin dia sudah tahu kalau aku naksir kak Andy. Apa dia juga sudah lama memendam rasa suka ke kak Andy. Sahabatku sendiri nggak mungkin seperti itu. Aku harus tanya ke April langsung.
***
Seminggu lebih aku tak berkomunikasi dengan April. Ini tak biasa terjadi. Dua hari kemudian April mengajakku ketemu di danau tempat kami biasa main.
“Ada apa Pril?” aku mulai membuka pembicaraan dengan April.
“Aku punya cerita buat kamu,”
“Apa?” aku pasrah menerima jawaban apa yang April berikan ke aku.
“Aku mau kenalin pacarku ke kamu,” benar. Hal ini terjadi, dan saat ini.
“Siapa Pril?”
Tiba-tiba seorang laki-laki datang dari belakang mendekati pembicaraan kami. Dan berdiri tepat di samping April.
“Ini pacar baruku Nin. Kamu udah kenal kan?”
Apa? Kak Andy beneran pacaran sama April? Aku menatap mereka tak percaya.
“Nin, kenalin ini Kak Andy salah satu anak yang sedang mengadakan penelitian dari UNES itu. Kak, kenalin ini Nindy temenku,”
Jabatan tangan terjadi antara aku dan kak Andy. Tak terasa air mataku meleleh dari sudut mataku. Hatiku luluh, sakit, hancur, mati rasa setelah tahu berita dari Anisa itu benar adanya.
“Lho dek, kenapa kamu nangis?” kak Andy tiba-tiba melepas tangannya yang sedang berjabatan dengan tanganku.
“Nin, kamu kenapa? Kamu nggak apa-apa kan?” April tiba-tiba menggoyang-goyangkan tubuhku. Berusaha memulihkan kesadaranku.
Aku hanya mampu menangis dan lari pergi meninggalkan mereka yang tengah keheranan melihatku. Pelan aku mendengar derap langkah kaki mereka mengejarku. Aku tak akan pedulikan hal itu. Aku hanya ingin perasaanku lari meninggalkan cintaku kepada kak Andy. Ia telah bersama April.
Mungkin inilah jalan yang terbaik. April tak penah tau siapa yang aku suka dan kak Andy tak pernah tau perasaanku kepadanya selama ini. Biarlah aku yang pergi meninggalkan perasaan perihku. Ini juga adalah salahku. Tak cerita kepada April tentang kak Andy dan tak pernah mengutarakan perasaanku kepada kak Andy.
Tuhan, hukum aku atas salahku ini. Biarlah hanya Engkau yang tahu hatiku ini. Aku akan mencintai diriku sendiri seperti aku mencintai kak Andy dengan hatiku selama ini. Cinta ini hanya aku, Tuhan dan hatiku yang tau.

0 Response to "Sepenggal Cinta untuk Kak Andy dan April"
Posting Komentar