Suatu
ketika di tepian sungai nampak seorang anak yang sedang murung dan
dia seperti anak yang sedang frustasi. Dia selalu berteriak-teriak ke
arah sungai, dia juga selalu bertanya pada dirinya akan tetepi dia
tak pernah mendapatkan jawaban yang tepat. “Apa sih pentingnya
sahabat,,,,
jika dia hanya bisa menyakiti, mengkhianati bahkan berani-beraninya
dia mengumpatku dari belakang”, dia berkata sambil berteriak-teriak
dan tanpa ia sadari tiba-tiba datang seorang anak seusianya dan
menjawab “Bagiku sahabat adalah sanubari hati yang tak dapat
dipatahkan, dan sahabat sangatlah penting karena tanpa sahabat dunia
ini akan terasa hampa”. “Tapi buwat apa punya sahabat yang hanya
bisa berkhianat”, jawab si anak frustasi itu.
Beberapa
waktu setelah jawaban itu mereka saling diam, sianak frustasi
memendam rasa bercampur marah dan si anak seusianya sedang
mengamatinya sambil diam ia hendak mengatakan sesuatu.
“Semua
itu pasti ada maksud tersembunyi”,,si anak seusianya itu berkata.
“Apa?????
Bagiku yang ada hanyalah penuh pengkhianatan,,,,, pecundang tetap
takkan dapat dielakkan”, jawab si anak frustasi.
“Memangnya
kamu sedang merasa disakiti sahabatmu??”, tanya si anak seusianya.
“Seperti
yang kamu lihat..” jawab si anak frustasi.
“hummmm,,,
sejak kapan za, ,,perasaan bisa dilihat?”, kata sianak seusia.
“Sebenarnya
apa sih maumu ,tiba-tiba datang dan hanya mengganggu.., lebih baik
kamu menjauh dariku karna kamu hanya menambah amarahku saja”, jawab
si anak frustasi.
“Baiklah
aku minta maaf jika mengganggumu, aku hanya ingin menemanimu”, si
anak seusia membalas jawabannya.
“Tak
perlu yang ada kamu tetap sama dengan yang lain,,,,. ..sama-sama
pecundang”, jawabnya.
“Mungkin
kamu mengatakan itu tapi aku bakal ngebuktiin bahwa aku bukanlah
pecundang,, dan asal kamu tahu itu aku tak pernah menyukai jika aku
dibilang pecundang....,” kata si anak seusia.
“Lalu???
Kamu marah??? Silahkan, lagi pula aku tak punya urusan denganmu”,
ucap anak frustasi itu.
“Tenaglah
aku tak bermaksud menambah amarahmu,,, kalo boleh tahu siapa
namamu??”, tanya si anak seusia.
“Aku
Dian dan kamu??”, si anak frustasi menjawab dan bertanya balik.
“Kenalin
aku Viarck dan teman-temanku sering memanggilku Vi atau Arck saja”,
jawab sianak seusia sambil mengulurkan tangannya.
Dengan
perasaan itu Dian ragu untuk mengulurkan tangannya, dan dia tetap
membalas mengulurkan tangannya walau tanpa tersenyum. Viarck merasa
senang walaupun Dian mengata-ngatainya Vi tet ap bersabar. Vi adalah
anak yang dikenal tenang tapi pasti yaitu dia dapat membuat orang
lain terbawa arus dengan kata-katanya. Dan Vi selalu mencoba
menghibur siapapun,, termasuk saat ini Vi mencoba menenangkan hati
Dian.
“Maukah
kamu menjadi sahabatku??” tanya Vi tiba-tiba.
“Asalkan
kamu takkan berkhianat padaku dan mengumpatku aku mau tapi jikalau
kamu bakal melakukan semua itu buwat apa???” jawab Dian.
“Bagiku
sahabat hanyalah butuh kepercayaan yang saling mempercayai bukanlah
langsung menggugat,,,,,,” jawab Vi dengan tenang sambil menghadap
kearah sungai,.
Hati
Dian menjadi terpuruk , selama ini dia tak pernah mempercayai
sahabatnya. Dian hanya selalu marah kepada sahabatnya saat sahabatnya
melakukan kesalahan tanpa mau mendengarkan alasan darinya.
“Kamu
benar Vi selama ini aku tak pernah mempercayai sahabatku sendiri
100%, bahkan aku selalu menganggapnya dia mengumpatku,, selama ini
dia memang tak pernah memahamiku dan aku juga menyadari sebab aku
juga tak memahaminya” jawab Dian dengan penuh penyesalan.
Dian
menjadi terpaku dia tak tahu apa yang sebenarnya ada dalam dirinya
yang hanya penuh dengan kebencian, dalam hati Dian ingin meminta maaf
pada sahabatnya dan dalam hati pula ia ragu sebab Dian berfikir bahwa
sahabatnya tetap takkan memahaminya. Dian hanya termenung penuh
dengan kesunyiannya. Vi yang berada didekatnya berusaha pelan, dan Vi
ikut diam sejenak.
“Tak
ada salahnya buwat minta maaf dan tak ada pula kata telat untuk
meminta maaf” ucap Vi kepada Dian.
Dian
bertambah bingung padahal dia hanya berkata dalam hati tetapi
ternyata Vi mengetahui maksudnya.
“Terimakasih
Vi kamu telah menyadarkanku,,, selama ini aku tak pernah memiliki
sahabat sepertimu yang peduli dan ngertiin aku” kata Dian.
Vi
hanya tersenyum dan mengatakan “Sama-sama An bagiku yang terpenting
adalah aku bisa memiliki banyak sahabat dan tak terdapat kesalah
pahaman dalam persahabatan tersebut”.
Dian
hanya bisa menyaesal tapi dia merasa senag bisa mendapatkan sahabat
yang bisa ngertiin dia..., selama ini Dian selalu beranggapan buruk
tentang sahabat tetapi kali ini tidak.
Sejak
saat itulah Dian dan Vi berkenalan dan bersahabat mereka saling
mempercayai, Vi bahagia dia bisa meredamkan amarah Dian.”
Terimakasih Vi” dalam hati Dian. Setelah itulah amarah Dian menjadi
redup dan rasa terpuruknya mulai reda.
Dian
mengatakan dalam hati “semua telah kuraih dan terlewati”.
Keinginan Dian terpenuhi yakni “Kembalikan Senyumku Sahabat”.....
dian sungguhlah senang tak disangka-sangka seorang anak seusianya
bisa menghiburnya bahkan lebih dari itu dia dapat bersahabat kembali.
Dengan penuh rasa kegembiraan Dian mendapatkan pelajaran berharga.
Vi
memiliki rasa tersendiri karena dia berhasil membuat arti
persahabatan dengan penuh keindahan.

0 Response to "SENYUMAN AWAL PERSAHABATAN (KEMBALIKAN SENYUMKU SAHABAT)"
Posting Komentar